Selasa, 11 Juli 2017

Pijakan Langkah Pertama Sidqi, Sang Pemburu Ilmu

Pijakan Langkah Pertama Sidqi, Sang Pemburu Ilmu

Well, tuduh saya sebagai ibu ambisius, yang gemar 'menyiksa' putra mahkotanya dengan sederetan tuntutan yang sometimes tidak masuk akal. Silakan tuding saya sebagai ibu yang ingin menghibahkan seluruh visi-misi muda saya yang tidak tercapai, dan saya forward begitu saja ke backbone Sidqi.

"Sidqi itu masih TK, masih balita, kenapa siy dicariin sekolah yang jauh-jauh?"

Rumahku di Rungkut. Sementara Sidqi aku daftarin di TK An-Nur, sebuah sekolah yang berlokasi di Semolowaru Selatan, yang mana untuk menuju sekolah, Sidqi harus menempuh jarak 5 kiloan.

Mertua dan suamiku tak henti2nya menyemburkan protes atas vonis sepihak yang aku timpakan pada Sidqi.

"Ya, biar Sidqi latihan. Kan dia ntar kalo kuliah SMA ke Ponpes Gontor Ponorogo, trus S-1 sampai Doktoralnya ke Inggris, berarti dia harus latihan untuk menempuh ilmu di tempat yang jauh," kilahku. Walau terdengar sekenanya, tapi aku yakin, Tuhan Maha Mencatat dan Maha Mengabulkan. Bahkan untuk celotehan yang 'asal bunyi'.

Dan, hari ini, Sidqi menjalani Hari Pertama bersekolah di TK An-Nur. Sidqi Keeps Smiling di antara temen2 TK-nya.Sidqi Keeps Smiling di antara temen2 TK-nya.

Ditemeni Uti Fat tercinta--yep, my mom yang asik banggets itu-- Sidqi menjalani hari pertamanya, TANPA seragam baru. "Aku ndak mau pakai seragam!" gerutu Sidqi di Senin pagi. Jadilah, ia ke sekolah dengan mengenakan kaos plus celana panjang bersabuk.

Sama "Ibu Nurulku Sayang" di depan Papan Rukun ImanSama "Ibu Nurulku Sayang" di depan Papan Rukun Iman

Sebelum aku datang, (menurut Uti Fat) Sidqi fine-fine aja. Bakat ngaleman-nya belum terkuak. Tapiii, begitu bodi sak hohah-ku ini nongol, dalam sekejap, Sidqi langsung merajuk manja, "Ibuuuu... aku mau maem... didulang ibu...."

"Ibuuu... aku mau pulangg.... Ibuuu.... aku mau gendong...."


Crowded. Yap, inilah kelas Sidqi yang crowded bin sumuk. AC-nya satu. Muridnya segambreng.Crowded. Yap, inilah kelas Sidqi yang crowded bin sumuk. AC-nya satu. Muridnya segambreng.

Aku coba analisis. Ya, Sidqi mungkin ngantuk. Mungkin sumuk. Mungkin beneran laper. Mungkin cari perhatian emaknya. Mungkin, mungkin, mungkin.... Apa mungkin dia ngerasa sekolah TK ini terlalu jauh yak? Atau, jangan-jangan, Sidqi sudah ngerasa bosan dengan metode pengajarannya di hari pertama sekolah.

Ah, enggaklah *coba menghibur diri* gak mungkin... Barangkali dia masih jalani masa adaptasi... Sabar... sabar....

Sebelum Pulang, Ngupil Dulu Ahhh....Sebelum Pulang, Ngupil Dulu Ahhh....

Teacher Adha *hell, yeah, semua guru di sekolah ini dipanggil dengan sebutan 'Teacher', itung2 latihan buat Sidqi sebelum dia beneran kuliah di Inggris*, salah satu guru Sidqi berkisah begini, "Kemaren waktu psikotes, Sidqi seneng loh... Ngomongnya banyak... Nggak tahu hari ini kok gak terlalu semangat ya? Atau mungkin gara-gara Sidqi datang telat ya?"

Salim sama Teacher Adha. See You Tomorrow!Salim sama Teacher Adha. See You Tomorrow!

Eniwei...
Ini baru hari pertama...
Masih adaptasi...

Jangankan Sidqi.
Aku aja, sebagai emaknya, yang udah berumur ini, juga nervous loh, sepagian ini aku bolak-balik ke toilet... Hahaha... yang sekolah anaknya, kok yang grogi emaknya yak?

Buat Sidqi dan jutaan jundi Allah, pemburu ilmu di muka bumi... dengan segenap cinta kunukil quotation indah dari Imam Syafii. *Thanks to Jeung Kuntum Ayu yang meminjamkan buku spektakuler "Negeri 5 Menara" padaku. This is a Greatest Islamic Story Book, ever!"
“Orang Berilmu dan Beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
Jika di dalam hutan.”

Imam Syafii