Jumat, 20 Januari 2017

Liburan itu sebenarnya ada di hati.

Liburan itu sebenarnya ada di hati. Meski fisik berada di tempat yang indah atau yang memanjakan dengan kesenangan…. tetapi hati masih sempit atau kita tak mampu berdamai dengan diri, itu namanya belum liburan. Liburan itu sejatinya membebaskan jiwa dan raga dari belenggu pikiran dan hati yang sempit hanya memikirkan kesenangan yang kasat mata dan sesaat. (Kartina Ika Sari)
 



Facebook saya hari ini memunculkan kenangan sebuah status mbak Kartina Ika Sari yang ia tulis setahun lalu. Hak jleeeb bener nih postingannya 🙂 Emberrr, terkadang kita memang ngerasa “fakir piknik” “haus liburan” apalah apalah.. tapi kalau hati belum bisa adem, rasanya percuma saja ya, sudah buang-buang duit, waktu, tenaga buat liburan.

Yep. Inti liburan itu memang ada di hati. Saya pernah merasakan hal serupa. Berlibur dengan fasilitas super duper mumpuni, tapi ternyata kalbu saya tetap kerontang. Liburan tak menemukan faedahnya.

Beda ketika kita nawaitu liburan untuk membersihkan jiwa. Biarpun pakai metode flashpacking (alias liburan cepet semi backpacking) saya tetap merasakan indahnya hawa vacation, karena memang saya liburan “pakai hati”. Mau tahu ceritanya? Okai, saya coba flashback ke memori setahun silam yah.

***

Waktu itu Hari Raya, tapi saya tak bisa pulang ke kampung halaman di Pacitan. Kenapa? Karena ipar-ipar saya pada kumpul di Surabaya, sehingga rasanya nggak enak atilah kalo harus meninggalkan mereka. Padahal, jiwa saya amat sangat rindu deburan ombak pantai dan semilir angin segar khas Pacitan.

Begitulah. Surabaya seolah menjadi jeruji yang menjebak saya dalam rutinitas aduhai amat-sangat-membosankan. Saya terpaksa mengebiri semua asa untuk bisa pulang kampung. Sehari-hari berkutat dengan rutinitas yang menjemukan di Surabaya. Hari Raya, juga tetap terkungkung di sini. Sementara, keluarga besar (dari pihak Ibu) sudah berkirim foto-foto keluarga di berbagai media sosial. Arrrghhh…!!

Hingga kemudian, hari itu tiba.

Ketika pekan Lebaran sudah berakhir…. kemudian saudara-saudara suami pulang ke rumah masing-masing, ada sesuatu yang menggelegak dalam dada. Meluap-luapkan kegembiraan, sebuah aroma kebebasan siap terhempas ke udara…YAYYY!! EUREKA!! Ini saatnya pulang kampung ke Pacitan!

***

Tidak pernah sebahagia ini. Saya memang kerap pergi ke Pacitan. Tapi, perjalanan kali ini luar biasa berbeda. Saya pulang ke Pacitan, setelah berhasil melampaui sebuah periode super-duper-membosankan di bumi Surabaya. Ini adalah pulang kampung yang sarat makna. Seolah saya telah terlepas dari belenggu dan siap bersorak gembira, “AKHIRNYAAAA, saya piknik juga!”

Ini berimbas pada kesehatan jiwa. Apalagi, saudara di Pacitan mengajak kami beranjangsana ke Pantai Klayar. Yap, that famous beach.

klayar-3
Lebih ajaib lagi, karena piknik yang kami lakoni bertiga –aku, Sidqi, dan ibuku– terbilang lumayan impulsif. Langsung memutuskan untuk bawa ransel, isi dengan baju secukupnya, lalu cussss… kita naik bus menuju Pacitan! Bener-bener backpacker ala-ala 🙂

Dan, ternyata… yang namanya piknik impulsif itu… sungguh memberikan kenangan yang amat berharga. Sampai detik ini, saya masih ingat letupan-letupan “ngeri-ngeri sedap” manakala kita memutuskan untuk pergi ke Pacitan. Padahal, perjalanan ngebolang itu sudah kami lakukan pada Rabu, 22 July 2015.

“Duh, kalo ntar jalanan macet parah karena arus balik, gimana ya?”

Yep, kami memang baru mudik ketika orang lain sudah menjalani arus balik. Bener-bener anti-mainstream. Hahahahaaa.

***

Selain ke pantai, bulek (tante) saya di Pacitan melontarkan ide yang amat brilian.

“Mumpung lagi di sini, itu Sidqi mbok ya diajarin renang! Panggilkan guru les privat renang, trus latihan intensif di kolam renang di Pacitan.”

Jadilah. Liburan yang serba mendadak, impulsif, dan sama sekali nggak terencana ini, malah memberikan impact yang luar biasa.

Sidqi –hanya dalam rentang empat hari les renang intensif– Alhamdulillah, sudah menguasai renang dengan gaya dada dan bebas.

Sementara saya? Alhamdulillah… Segala nyeri, sebal, judeg, stres, yang bercampur dan siap pecah di ubun-ubun.. semuanya lenyaaaap… sirna tak berbekas.


Saya bersyukur, diberikan kesempatan untuk bisa traveling dalam rentang waktu sesingkat ini, namun amatlah impresif. Sungguh tak habis-habis rasa syukur saya. Bagaimana dengan cerita liburan Anda?

Tawarkan Sajian Kuliner Bebek ala Fusion Food

Sigit Hendrawan (Hendy)
Owner Bebek Telor Asin Pak Joss
Tawarkan Sajian Kuliner Bebek ala Fusion Food 


Apa kuliner yang sangat identik dengan kota Surabaya? Yap, mayoritas dari kita langsung menjawab, “Bebek!” Aneka ragam olahan bebek memang kerap membuat diet berantakan. Tak heran banyak yang melabeli Surabaya sebagai “surganya olahan bebek”.
Sigit Hendrawan mencium peluang manis untuk ikut berkecimpung di bisnis kuliner bebek. Hendy—begitu ia biasa dipanggil—menjajal aneka resep berbahan dasar bebek. Dari beragam eksperimen yang ia lakoni, Hendy memutuskan untuk berjualan bebek telor asin dan bebek kremes. Ada juga produk ayam dengan bumbu serupa.
Brand JOSS ia benamkan untuk bebek olahannya. “JOSS ini bisa diartikan ‘Jadilah Orang Sukses Selalu’. Saya anggap brand sebagai doa. Intinya sebuah doa agar kita bisa sukses dunia akherat,” ucap Hendy ketika ditemui di outlet terbarunya, di kawasan Rungkut Surabaya. 
Bebek JOSS ini dijajakan melalui gerobak dorong. Agar punya diferensiasi, gerobak ini dilengkapi jingle. Yak, mirip strategi Sari Roti, yang dikenal konsumen melalui jingle-nya. ”Kalau dengar jingle bebek JOSS, calon pembeli sudah paham, waaah... ini nih bebek telor asin yang saya tunggu,” lanjut Hendy.
Di tahun 2011, Hendy membuat sebuah gebrakan. Ketika pertumbuhan media sosial demikian massif, Hendy memanfaatkannya untuk berdagang. ”Jualan lewat twitter, promo lewat instagram, semua kami lakukan. Bebek JOSS sudah mengirimkan dagangan ke 35 kota se Indonesia. Aktif di sosmed menjadi senjata para pengusaha UKM untuk bertemu dengan potential customer,” ungkap ayah berputra dua ini.
Olahan bebek khas Hendy bisa diterima banyak khalayak. Lantaran diperjualbelikan secara online, menu bebek ini terbang naik pesawat, hingga ke Batam, NTT, NTB. Sejumlah selebriti juga ikut meng-endorse bebek Pak Joss. ”Saya ingin bebek ini bisa dirasakan oleh banyak kalangan. Olla Ramlan, yang artis tenar itu juga rutin beli bebek Pak Joss. Beberapa selebtwit atau aktivis media sosial yang ber-follower banyak turut mencicipi dan memberikan testimoni seputar produk ini.”
Setiap ada seminar ataupun talk show enterpreneurship, Hendy selalu menyempatkan diri untuk hadir. ”Saya bertemu banyak orang yang berkecimpung di dunia usaha, intens berdiskusi dengan mereka, intinya saya ingin produk ini dicoba oleh banyak orang. Hingga saya bertemu dengan Bapak Subiakto Priosoedarsono, pakar branding yang gemar memberikan coaching bagi para pengusaha UMKM. Alhamdulillah, saran dari beliau saya eksekusi. Bismillah, saya mendirikan restoran Bebek Pak Joss di beberapa kota.”
Bebek Naik Kelas Menjadi Fusion Food
Kalau selama ini, bebek identik dengan warung PKL, maka Hendy menawarkan culinary experience yang berbeda. Bebek diolah dengan citarasa yang menggoyang lidah, plus presentasi yang aduhai. Ingin merasakan makan bebek pakai sumpit? Silakan cicipi menu Bebek Oven Mozarella, yang disuguhkan Hendy di restorannya.
“Di restoran ini, saya mengkreasikan menu-menu baru. Bebek oven mozarella ini idenya karena melihat iklan salah satu pizza yang kejunya molor dan menggugah selera. Setelah diujicobakan, banyak yang suka, dan Alhamdulillah, menu ini jadi salah satu andalan di resto kami,” lanjut Hendy.
Market kuliner memang bergeser. Kuliner bukan semata-mata persoalan “Yang penting perut kenyang.” Tapi, mereka yang berjiwa muda butuh pengalaman menikmati “sesuatu yang baru” kemudian membagikan “experience” itu via beragam media sosial. Ini yang disadari penuh oleh Hendy.
Selain itu, Hendy berinvestasi dengan beragam foto kuliner yang menggugah selera. “Harus ada visualisasi yang menggiring konsumen untuk tertarik mencoba menu yang kami tawarkan. Investasi ini memang tidak murah, tapi sebagai pengusaha kuliner, kita harus yakin bahwa foto-foto yang terpampang di dinding resto ataupun di buku menu bisa menjadi ‘senjata’ kita dalam memikat konsumen.”
Untuk promosi, Hendy masih mengandalkan kekuatan media sosial (medsos). Ia juga menyarankan para pengusaha UMKM agar istiqomah dalam bermain di medsos. 
“Setiap bulan, kita bisa langganan paket data 8 GB. Harus istiqomah setiap mem-posting menu ataupun promo yang ada di resto. Jangan berpikir instan, baru posting 1-2 kali saja sudah ingin dagangannya laris. Jangan seperti itu. Medsos itu penting untuk pertumbuhan usaha kita. Harus ada interaksi yang baik dengan follower,” lanjutnya.
Di tahun 2016 ini, Hendy siap melebarkan sayap, dengan membuka resto di kawasan Surabaya Barat, Sidoarjo, Gresik, dan Jakarta. “Saya siap bekerjasama dengan pola kemitraan. Tapi, untuk bisa menjadi mitra, saya menerapkan sejumlah syarat dan ketentuan. Yang paling penting, harus menyamakan visi dengan saya. Mitra/investor juga harus bersedia ikut training. Banyak bisnis berbasis kemitraan yang gagal, lantaran sikap investor yang punya ekspektasi terlalu tinggi, tapi tidak mau diajak kerja keras bersama-sama.”
Hendy pun terus melaju. Tidak hanya mendulang sukses sendirian, ia juga gemar berbagi ilmu dan menularkan semangat berwirausaha kepada para pengusaha UMKM lainnya. ”Kami bergabung dalam komunitas UMKM Bergerak, yang bisa diakses di Facebook maupun Instagram. Di forum ini, kami saling menyemangati dan berbagi tips agar usaha kita bisa semakin berkah dan berjalan dengan standar usaha yang baik dan benar,” ungkap Hendy. (*)
Telp/ Whats App:+6289677649130
Instagram : @bebektelorasinpakjoss
Outlet Surabaya: Jl Rungkut Madya No.21 dan Jl. Dharmahusada No.134

Outlet Bandung: Terusan Jalan Jakarta, Ruko Pelangi no. 6, Antapani dan Jalan Taman Kopo Indah II Ruko A1-8, Kopo

Selasa, 29 November 2016

THE GREATEST ADVICE

THE GREATEST ADVICE

Don't date because you are desperate.
Don't marry because you are miserable.
Don't have kids because you think your genes are superior.
Don't philander because you think you are irresistible.

Don't associate with people you can't trust.
Don't cheat. Don't lie. Don't pretend.
Don't dictate because you are smarter.
Don't demand because you are stronger.

Don't sleep around because you think you are old enough and know better.
Don't hurt your kids because loving them is harder.
Don't sell yourself, your family, or your ideals. Don't stagnate.!

Don't regress.
Don't live in the past. Time can't bring anything or anyone back.
Don't put your life! on hold for possibly Mr/Mrs Right.
Don't throw your life away on absolutely Mr Wrong because your biological
clock is ticking.

Learn a new skill.
Find a new friend.
Start a new career.
Sometimes, there is no race to be won.
Only a price to be paid for some of life's more hasty decisions.

To terminate your loneliness, reach out to the homeless.
To feed your nurturing instincts, care for the needy.
To fulfill your parenting fantasies, get a puppy.
Don't bring another life into this world for all the wrong reasons.

To make yourself happy, pursue your passions and be the best of what you
can
be.
Simplify your life. Take away the clutter.
Get rid of destructive elements: abusive friends, nasty habits, and
dangerous liaisons.
Don't abandon your responsibilities but don't overdose on duty.

Don't live life recklessly without thought and feeling for your family.
Be true to yourself.
Don't commit when you are not ready.
Don't keep others waiting needlessly.

Go on that trip. Don't postpone it.
Say those words. Don't let the moment pass.
Do what you have to, even at society's scorn.

Write poetry.
Love Deeply.
Walk barefoot.
Dance with wild abandon.
Cry at the movies.

Take care of yourself. Don't wait for someone to take care of you.
You light up your life.
You drive yourself to your destination.
No one completes you - except YOU.

It is true that life does not get easier with age.
It only gets more challenging.
Don't be afraid. Don't lose your capacity to love.
Pursue your passions.

Live your dreams.
Don't lose faith in your God.
Don't grow old. Just grow YOU!

When you give someone your time, you are giving them a portion of your life
that you'll never get back. Your time is your life. That is why the
greatest
gift you can give someone is your time. Relationships take time
and effort, and th! e best way to spell love is T-I-M-E because the essence
of
love is not what we think or do or provide for others, but how much we give
of ourselves.

--Rick Warren, The Purpose Driven Life

Minggu, 26 Juni 2016

Buka Bareng Penuh Rasa Jaim di Hotel Santika Jemursari

Buka Bareng Penuh Rasa Jaim di Hotel Santika Jemursari

Lho, kenapa kudu jaim sih?

All right, sebelumnya disclaimer dulu yak. Jadi, gue ama beberapa teman kantor dapat undangan buka bareng dari sebuah vendor percetakan.

Jatah peserta bukber kurang lebih 6 manusia gitu deh. Dan, sesuai perjanjian awal, yang dateng adalah temen2 dari divisi gue aja. Pokoke yang satu kubikel gitu. Kenapa? Soale, kita (boleh dibilang) nyaris enggak pernah hang out alias kumpul2 di lokasi yang agak hedon atau mengandung unsur duniawi gitu lah. Kita kalo kumpul2 yaaaahhh, palingan pas ada pengajian di masjid kantor doang, hag hag hag.

Makanya, pas ada undangan enih, gue yang cemungud banget eaaa kakaaakkk
Kebayang lah, bisa poto2 gokil penuh euforia kebebasan terpampang nyata bukan fatamorgana. Karena kan, selama ini kalo di kantor, kita dituntut untuk pencitraan jadi cowok sholih dan cewek sholihah gitu. Padahal, aseliknyaaaa hahahahhahah *krik*

Nah, karena undangan kan jam 16-an gitu. Gue izin pulang dulu buat mandi jebyar jebyur, karena Surabaya kan hot-hot gitu, biar bau badan engga semriwing, lah.

Trus temen2 jemput ke rumah gue, yang emang engga terlalu jauh dari kantor. Ketika kontingen bukber datang ke rumah.....

DIEEENGGGGG....

Kenapa yang dateng muka2 yang enggak diharapkan gini siiih??

KAGAK ADA sebiji pun temen satu divisi! Semua adalah para laki-laki yang beda divisi ama akoooh. Duh. Langsung nge-drop shaaayy!!

"Soale, temen2 lagi deadline ketat, jadi kagak mau ikutan buber..." demikian penjelasan Satria Metaldar a.k.a mz Malik, bos di kantor gue yang sore itu merangkap jadi sopir.

Ya wis lah. Apa boleh buat, yuk mari kita cus ke Santika Jemursari

FYI, gue pernah beberapa kali breakfast di sini. Menu2 yang ditawarkan ya standar Santika lah. Not bad, tapi juga nothing special. Specialty Santika lebih ke masakan Indonesia ya kan? Makanya kalo sarapan demen banget eikeh, bisa ketemu siomay, jamu2 dan masakan yang emang khas banget selera nusantaranya.

Tapiiii, untuk menu bukber, sayang banget... mereka sepertinya terjebak nostalgia menyajikan menu2 yang emang identik dengan menu mainstream. Kurang terasa ke-Santika-annya *halah*





Satu-satunya menu yang cukup bikin naga di perut gue menjerit nyaring adalah, si salad ini. Sebenernya ya nothing special, seperti salad pada umumnya. Hanya saja, menu2 lain karena sooo biasa2 banget, ya wislah... aku oke deh dengan salad ini













Berapa harga per orang? Kalo engga kliru, kemarin nanya2 ama petugas di sono, per orang kena 86 ribu ++

Mahal?
Hmmm, nurut gue iya sih. Karena ya itu tadi, menunya standar abis. jadi ya, buat harga segitu, belum memenuhi ekspektasi lah.

Beberapa menu terasa hambar... eh, yang lain keasinan. Kayak mie ayam bakso tuh, asiiiin banget sumpe deh ih... Gue positive thinking aja dah. Mungkin yang masak lagi puasa ye kaaan, makanya doi males buat incip2. Padahal, IMHO kalo puasa BOLEH KOK incip2, asal jangan ditelen :-)

Iiih, maap ya Santika :) Eikeh kan sebenernya fans berat ente. Kalo nginep di luar kota (asal pake biaya kantor haghaghag) gue juga demen banget kok, di Santika. Karena hotelnya bersih, trus masakannya cenderung enak lah dibandingin hotel lain.

Makanya, gue cerewet banget di postingan enih, biar lo lo pada ningkatin kualitas begonoooh. Jangan mau kalah dong ah, dengan merek2 baru yang banyak beredar di Surabaya tercintah.

Love you, Santika. Tolong diperbaiki ya, selera masak tim dapurnya *__*