Minggu, 18 Februari 2018

Film Perjuangan untuk Anak Zaman Now

Kalau lihat film-film yang tayang di bioskop kita, dan dibandingkan dengan antusiasme penonton, cukup mudah untuk lihat polanya ya.
Mayoritas film percintaan anak muda (seperti Dilan 1990) laris manis tanjung kimpul apabila ditonton oleh anak muda juga. Eh, tante-tante juga nonton Dilan ding
Padahal, anak muda perlu diberikan suntikan semangat agar mencintai bangsa ini.

Mungkin, metodenya memang agak sulit kalau lewat film yang murni tentang perjuangan.
Film biopik seperti "WAGE" atau "Soekarno" atau "Soedirman" (padahal, Soedirman dimainkan oleh Adipati Dolken) ternyata tidak menarik minat anak muda untuk menontonnya.

Ada baiknya, sinemais Indonesia melihat gaya "Pearl Harbor". Lebih banyak sisi romantic is okay. Asalkan disuntikkan semangat nasionalisme dan kepahlawanan juga.

Kamis, 25 Januari 2018

Tentang Resign



 Seorang sahabat (sebut saja mbak M) bakal resign dari kantor. Sebenarnya,jauh di lubuk hati, mbak M ini enggakpengin resign. Doi masih betah berkutat dengan segala macam printilan kerjaan. Tapi,karena ada bayi cantik bin imut yang (menurut ibu mertuanya) butuh sentuhan seorang ibunda setiap saat, apa boleh buat, mbak M harus mengalah.
Job vs motherhood.Aktualisasi vs menjadi ibu yang stand by 24 jam.
Getir memang. Tapi, karena sahabat saya ini tipikal menantu yang baiiiiik banget, ya sudah, dia memutuskan untuk ciao sama kerjaan kantor.

Sahabat saya yang lain juga mau resign. Sebut saja Mas G. Kalo yang ini, saya belum denger dari orangnya langsung. Tapi, santer berita beredar, sahabat saya ini mau pindah ke sebuah perusahaan besar, (sebut saja kantor X) yang sering dapat award level internasional, dan nuansa kerjanya Amrik banget lah. Saya tahu persis, karena dulu, saya pernah mengais rupiah di sana. Bahkan, ketika saya udah berkutat di duniasosial & dakwah, sempat beberapa kali sayadiiming2i oleh Big Boss kantor X, “Ngapain kamu kerja di yayasan gitu? Berapa sih, gajinya? Balik lagi aja ke sini.”

To be honest, saya sempat goyah.
Bayang-bayang rupiah.
Kesempatan traveling dan kesenangan dunia yang membuncah.
Dan, it’s definitely kerjaan yang passion saya banget… nget….
Tapi, kemudian saya coba berpikir lagi. Saya tidak mungkin dapat semuanya. Mungkin, kalo kerja di X, saya dapat kesempatan duniawi yang terbentang luas. Tawaran untuk ngebolang ke luar negeri… Bertemu orang2 top level dunia…. Bahkan beasiswa dan short course yang jujur, selalu bikin saya ngiler to the max.
Gaji?
Sudah tentu, secara nominal, gajinya amat-sangat-menggiurkan. Jauuuuh kalau dibandingkan dengan kerjaan saya sekarang.
Hei. Tunggu dulu. Kita belum bahas gaji secara intrinsik. Rupiah yang tertera di buku rekening memang amat besar. Dan itu harus dibalas dengan: pulang malam SETIAP HARI, jarang BERTEMU dengan anak, NGGAK BISA datang ketika anak ada acara di sekolah, BERGAUL dengan kalangan yang super-hedonis, dan DUNIA, DUNIA, DUNIA itu saja yang bercokol di batok kepala.
Inikah yang saya cari???
Tidak.
Dengan sekuat tenaga, saya berupaya keras untuk tidak memberhala pada dunia. Manusiawi bila saya ingin diganjar dengan gelimang rupiah dan segala pernik-pernik duniawi lainnya. Tapi, hidup memang menawarkan pilihan. Dan, saya memilih sebuah pekerjaan yang memungkinkan saya untuk tetap bisa berinteraksi dengan keluarga.

Ghaida Tsurraya, Tertulari Semangat Bisnis Aa Gym



Siapapun tentu sudah faham betapa moncer-nya imperium bisnis yang digawangi Aa Gym alias KH Abdullah Gymnastiar. Selain piawai menyebarkan dakwah yang adem di hati, ustadz satu ini juga terus tebarkan indahnya Islam, melalui beragam bisnis syari. Rupanya, jiwa bisnis Aa Gym menurun ke putri sulungnya, Ghaida Tsurayya.
Sejak kecil, Ghaida hobi menggambar dan desain. Ketika masih kuliah di Fisika ITB-pun, Ghaida terus corat-coret membuat desain baju. Passion mendesain itu nggak bisa hilang walaupun saya kuliah di jurusan eksakta. Iseng-iseng saya bikin desain busana untuk saya pakai sendiri, ungkap Ghaida.
Baju-baju hasil goresan Ghaida selalu ia kenakan dalam beragam kesempatan. Nuansanya yang girliedan kasual membuat beberapa teman kepincut dan ingin memiliki busana serupa. Ketika beberapa teman tahu kalau saya desain sendiri, mereka mulai pesan. Lumayan juga ternyata hasilnya, lanjutnya seraya tersenyum simpul.
Meski awalnya iseng, Ghaida mem-posting kreasinya di facebook. Ternyata, responnya luar biasa. Rok yang saya jual di facebook langsung habis dipesan orang. Padahal waktu itu stok masih sedikit, produksi sesuai pesanan saja. Lama-lama yang beli di facebook ingin lihat yang aslinya. Mereka datang ke rumah, ceritanya.
Untuk menampung antusiasme pelanggannya itu, sebuah ruangan kecil di samping rumah Aa Gym disulap menjadi butik: GDAs Gallery. Ghaida menangani desain, pemasaran, label, hingga renovasi toko. Saat ini, ia dibantu 6 penjahit dan 4 admin yang mengurusin pernak-pernik marketing dan distribusi produk.
Melihat tren penjualan yang menggembirakan, Ghaida mulai menyusun strategi. Usai aktif di FB, Ghaida merambah twitter dan blog. Inspirasinya dari blogger Diana Rikasari. Dia suka posting fashion style-nya. Nah, saya juga mem-posting gaya busana saya di blog, karena blog ini sekaligus berfungsi sebagai etalase produk kita, lanjutnya.
Desain-desain manis, cute dan feminin yang ditawarkan Ghaida menarik minat banyak konsumen. Saat ini, penjualan produk Ghaida bisa menembus angka 600 piece baju per bulannya. Apakah Ghaida juga memanfaatkan jamaah orangtuanya sebagai target market? Oh, tidak sama sekali. Pangsa pasar brand saya sangat berbeda dengan santriwati Aa Gym. Muslimah di Daarut Tauhid kebanyakan busananya mirip gaya Ibu (Teh Ninih). Kalau baju yang saya bikin lebih menyasar anak muda yang suka produk girlie and cute, ucap ibu muda berputra 3 ini.
GDAs Gallery
Jl. Geger Kalong Girang 30D Bandung 40154

Ria Miranda da Nuansa Pastel Hijab Cantiknya

Kalau Anda aktif mengikuti perkembangan industri desain hijab nan elegan, maka Ria Miranda tentu bukan nama asing di telinga Anda. Hobi memadupadankan busana mengantar Ria menjelma jadi desainer busana muslimah papan atas di republik ini.
Ternyata menjadi desainer baju adalah impian Ria sejak remaja. Ia kerap membayangkan dirinya berdiri di panggung catwalk, tampil sesaat setelah koleksi rancangannya dipentaskan. Tatkala masih berdomisili di Padang Sumatera Barat, Ria kecil gemar menggambar sketsa baju rancangan. Selepas menuntaskan kuliah di Universitas Andalas, Padang, Ria berencana merantau ke Jakarta. Rupanya passion Ria tak bisa dibendung. Ia ingin belajar sekaligus meniti karir di dunia mode. Awalnya bukan hal mudah untuk mendapat izin dari orangtua.
Tapi, Ria terus menjelaskan planning-nya dengan sungguh-sungguh. Allah yang menggerakkan hati kedua orangtua, sehingga Ria diizinkan menimba ilmu mode di ESMOD Jakarta. Setelah tuntas menggali ilmu fashion di ESMOD, Ria memulai karir sebagai fashion stylist di Majalah Noor. Di sinilah, Ria membina jejaring dengan kalangan mode. Ia belajar seluk beluk strategi pemasaran, tren fashion sekaligus menggodok karakter label busana yang akan ia usung. Setelah setahun berkarir di Noor, Ria membulatkan tekad menjadi desainer busana muslimah berlabel namanya sendiri. Lalu, apa yang membedakan brand Ria Miranda dengan yang lain? Ketika itu, Ria membaca buku tentang desain interior shabby chic, karya Rachel Aswell. Intinya, gaya desain interior ini mengolah barang-barang klasik atau vintage, direkondisi dengan sentuhan feminin.
Buat yang lagi di Pacific Place bisa ke @LafayetteJKT yah.. ada yg beda disana utk menyambut Ramadhan.
Dari situ saya mendapat ilham, bahwa sebuah hal yang tampaknya tidak sempurna justru bisa terlihat sangat menarik apabila diberi sentuhan feminin yang cantik. Karena itulah, busana Ria Miranda punya didesain dengan warna-warna pastel nan lembut. Ini yang jadi ciri khas rancangan saya. Pada tahun 2009, Ria menuangkan idenya dalam puluhan sketsa. Sejumlah tantangan muncul. Sketsa perdananya dicuri. Asisten kepercayaannya menelikung. Juga salah satu desainnya yang laris dibajak. Saat itu saya meluncurkan model blus kasual menyatu dengan penutup kepala (hoodie ). Desain ini melejit, tapi sekaligus dibajak banyak orang. Akhirnya, saya belajar untuk ikhlas, ucapnya seraya tersenyum simpul. Toh, kesabaran dan kerja keras Ria membuahkan hasil. Label bajunya kerap disandingkan dengan label-label desainer senior. Ria juga kerap melanglang buana, karena didapuk menjadi brand ambassador salah satu merek kosmetik. Gerai Ria Miranda sudah tersebar di 14 kota besar di Indonesia. Ria terus berinovasi. Yang jelas, ia menyampaikan semangatnya, bahwa menggeluti bisnis hijab adalah salah satu langkah dakwah yang ia lakukan. Berhijab bisa dilakukan dengan yang elegan sekaligus syari. InsyaAllah, kami siap mengajak para muslimah untuk sama-sama menata dan memperbaiki diri agar bisa memakai hijab dengan sempurna, urai ibu berputra satu ini.